Movies

Something About Dickinson

pict credits: www.ibtimes.com

I’m just finished watching Dickinson (TV Series). So Amazing! Menceritakan kehidupan seorang penyair abad ke-18 asal AS Emily Dickinson yang dibintangi oleh my favorite actress & singer “Hailee Steinfeld”! Mungkin emang udah telat aku nontonnya, karena series ini pertama kali rilis pada November 2019, tapi gapapa lah ya. Yang penting kesan pesannya merasuk. Hahaha. Tapi kali ini aku gak bakal bahas soal series-nya, tapi lebih ke pikiranku saat nonton series ini. Disclaimer, aku bukan film/movie/series addict. Jadi kalau ada yang gak nyambung dengan dunia perfilman, I’m sorry.

Menurut Wikipedia, Emily Elizabeth Dickinson lahir di Amherst, Massachusetts, USA pada 10 Desember 1830. Sebagai seorang penyair, kehidupan Emily tidak seperti penyair jaman sekarang. Dalam series ditunjukkan bagaimana wanita pada saat itu. Emily sangat tidak diperbolehkan mem-publish karya-karyanya. Jadi setiap puisinya hanya diletakkan di loker mejanya. Setiap hari ia harus mengerjakan pekerjaan rumah, dan ia juga masih dijodoh2kan! Padahal ia tidak ingin menikah. Saat itu wanita juga belum memiliki hak pilih dalam pemilu. So sad!

Emily tidak diperbolehkan sekolah terlalu tinggi tentunya. Suatu hari karena sangat ingin mempelajari tentang gunung berapi, Emily bersama sahabatnya Sue Gilbert mendatangi college untuk mengikuti lecture. Tidak sebagai Emily Dickinson tentunya, Emily dan Sue harus menyamar menjadi laki-laki! Dan ketika penyamarannya terbongkar, murkalah keluarganya. Itu bukan kali pertama Emily memberontak, sebelumnya Emily berusaha untuk menerbitkan puisinya, dan ayahnya juga sangat marah.

Setelah Emily menghembuskan nafas terakhirnya, barulah ditemukan ribuan pusi-pusinya. Kemudian puisinya tersebut di-publish dan diakui oleh seluruh dunia keindahannya. Puisinya sangat unik di masa itu. Sekarang, rumah keluarga Dickinson dijadikan sebagai museum Emily Dickinson yang menyimpang barang-barang milik keluarga Dickinson dan ribuan puisi karya Emily Dickinson.

Melihat wanita dikurung seperti itu. Aku membayangkan bagaimana jika aku lahir di tahun–tahun itu? Apakah aku hanya menurut saja dengan aturan? Atau memberontak? Jangankan di tahun 1800-an, dimasa sekarang, masih ada wanita yang hidupnya masih dikekang. Harus begini harus begitu. Tidak boleh begini tidak boleh begitu. Semoga mereka segera bebas. Kesetaraan gender memang harus selalu diperjuangkan. Jangan sampai kita harus mengulang masa-masa itu.

Setelah menonton Dickinson Series aku menjadi sangat bersyukur dilahirkan sebagai wanita modern. Alhamdulillah. Beruntungnya aku lahir di masa sekarang. “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?“ Q.S Ar- Rahman ayat 13, 16, 18, 21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61, 63, 65, 67, 69, 71, 73, 75, dan 77.

Heliophobia

2 Komentar

  • CREAMENO

    Nggak bisa membayangkan kalau hidup harus dikurung dan dikekang seperti Emily, mungkin saya akan sutris berkepanjangan 😓 thank God, saya lahir dijaman modern seperti mba Shohi jadi nggak perlu mengalami hal yang nggak mengenakan.

    Namun meski begitu, sebenarnya, bentuk kekangan dari keluarga di era sekarang masih tetap ada. Bahkan ortu yang marah karena anaknya berminat pada hal yang diluar kewajaran (menurut ortunya) pun ada. Seperti ayah Emily yang marah — Which is sangat disayangkan 🤧

    • Shohi

      Iyaa mbak. Masih banyak banget! Masih banyak anak2 yang harus berjalan sesuai dengan keinginan orang tuanya walau si anak gak menikmati.

Tinggalkan Balasan ke CREAMENO Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *